Sepenggal Nasihat

Posted by RobyPKS.id 0 komentar
Sesungguhnya medan berbicara itu tidak semudah medan berkhayal. 
Medan berbuat tidak semudah medan berbicara. 
Medan jihad tidak semudah medan bertindak. 
Dan medan jihad yang benar tidak semudah medan jihad yang keliru. 

Terkadang sebagian besar orang mudah berangan-angan namun tidak semua angan-angan yang ada dalam benak mampu diucapkan dengan lisan.
Betapa banyak orang yang dapat berbicara namun sedikit sekali yang sanggup bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan dari yang sedikit itu banyak diantaranya yang sanggup berbuat namun jarang yang mampu menghadapi rintangan-rintangan yang berat dalam berjihad. Para mujahid adalah sekelompok kecil yang terdiri dari para ‘Anshor’ (orang-orang yang bersedia berkorban demi agama) yang bisa berbuat salah seandainya mereka tidak mendapat pertolongan Allah. Maka persiapkanlah diri dan jiwa kalian, menggemblengnya secara benar dengan ujian yang cermat. Serta ujilah jiwa kalian dengan tindakan, yaitu dengan suatu pekerjaan yang amat berat baginya. Dan jauhkanlah jiwa kalian dari kesenangan dan kebiasan yang buruk….

Saudaraku, putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa da`wah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang sedang dideritanya. Dan setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia, karena bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembali kepada kita. Dan hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya. Maka bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya hari esok, kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti, kita harus berbuat dan terus melangkah, karena kita tidak mengenal kata berhenti dalam jihad yang suci ini. “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.”(Al Hujurah 69) Dan hanya Allah-lah zat yang Maha Agung dan bagi-Nya segala puji. -Asy-Syahid Imam Hasan Al Banna-

Baca Selengkapnya ....

Tipuan "cerdas" sang politikus

Posted by RobyPKS.id 0 komentar
Perbincangan politik terkadang membuat panas dingin. Bukan karena suhu udara yang cepat mengalami  perubahan, akan tetapi karena topik yang satu ini banyak membutuhkan energi dan pemikiran. Politik tidak hanya menyentuh ranah individu tetapi mencakup skala yang lebih luas dan menyangkut kepentingan orang banyak. Untuk itu seyogyanya dibutuhkan kehadiran hati yang jernih dan pengetahuan yang luas agar kita tidak keliru dalam mengarungi dunia politik sehingga politik yang memiliki pengaruh luas akan memberikan manfaat yang baik dalam kehidupan ini.

Politik identik dengan kepemimpinan, kewenangan dan kekuasaan. Politik sangat menyentuh niliai-nilai yang esensial dan sensitif sehingga tidak mengherankan apabila pembahasan sampai tataran praktisnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dipenuhi dengan kegaduhan. Namun, sesungguhnya politik dalam sekup yang lebih kecil sangatlah dekat dengan kehidupan sehari-hari dan ada pada hampir semua sendi-sendi kehidupan ini. Bagaimana tidak? Apabila politik diartikan kepemimpinan, maka sudah kita pahami bahwa sesungguhnya setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya.

Bagaimana bentuk bangunan rumah tergantung dari sudut mana ia dipandang. Ungkapan tersebut setidaknya perlu kita refleksikan terhadap sudut pandang kita mengenai politik sehingga politik yang dipandang sebagai hal yang berat akan berubah menjadi lebih ringan. Sudut pandang yang dimaksud adalah politik sebagai sebuah seni. Seni tidak lepas dari nilai rasa keindahan. Alat ukurnya adalah perasaan. Output dari seni adalah karya seni. Karya seni itulah yang akan dinilai baik atau buruk oleh perasaan yang menikmatinya. Politik adalah seni memilih. Output yang dihasilkan adalah pemimpin, dengan kata lain memilih pemimpin merupakan bagian dari seni dalam berpolitik. Adapun bagi pemimpin, politik adalah seni memimpin. Ia akan memilih bagaimana cara ia memimpin, apakah ia memimpin secara otoriter atau demokratis? Apakah keputusan-keputusannya atau kebijakan-kebijakannya mampu membuat yang dipimpinnya menjadi lebih baik atau tidak?.

Oleh sebab itu bagi seorang pemimpin dibutuhkan sifat-sifat yang menunjang untuk menjadi pemimpin yang baik. Sifat-sifat yang semestinya ada dalam diri pemimpin adalah jujur dan teguh terhadap prinsip kebenaran sehingga apa yang dikatakannya dapat menjadi pedoman bagi yang dipimpinnya, akuntabel sehingga siapapun dapat memberikan masukan untuknya, memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang baik sehingga ia tidak diragukan sebagai pemimpin yang baik, memiliki pengetahuan yang luas, cerdas dan visioner sehingga ia mampu memimpin dengan bijaksana, serta seorang pemimpin dituntut untuk bersikap adil kepada siapapun yang dipimpinnya sehingga keputusannya menentramkan dan tidak ada yang terdzalimi.

Memilih pemimpin sebagai sebuah seni dibutuhkan kejelian. Perlu kita pahami bahwa memilih pemimpin dalam dunia politik tidak hanya sekedar  memilih obyek tetapi sekaligus memilih subyek. Dalam hal ini ibarat tidak sedang memilih lukisan tetapi memilih pelukis. Adapun lukisan adalah obyek tak langsung atau karya yang akan dihasilkan oleh pelukis. Dalam memilih pemimpin perlu mengetahui dan mengenal sosok yang akan dipilihnya. Maka paling tidak kita perlu mengetahui ke belakang rekam jejak seorang calon pemimpin yang akan kita pilih. Dengan mengetahui rekam jejak pemimpin maka itu menjadi modal dalam menentukan pilihan.

Pilihan selalu memiliki konsekuensi. Ia adalah output dari tingkat kejelian pemilih. Pilihan yang tepat menghasilkan output yang baik dan memiliki manfaat yang baik bahkan mungkin mampu melebihi ekspektasi sang pemilih, sedangkan pilihan yang salah akan menghasilkan output yang buruk dan tidak bermanfaat, bahkan bisa jadi menjadi perusak yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan oleh sang pemilih. Meski hanya memilih, sesungguhnya ia memiliki konsekuensi yang amat mahal. Untuk itu seharusnya dalam melakukan diiringi dengan kesadaran terhadap konsekuensi dan mempertimbangkan secara mendalam dan matang. Terlebih lagi dalam memilih pemimpin, ada baiknya selain pertimbangan pribadi dengan akal dan hati sekiranya pertimbangan secara vertikal sangat dibutuhkan agar semakin memantapkan pilihan. Selamat memilih, semoga kita semua menjadi pemilih cerdas dengan memilih yang terbaik yang menjadi pemimpin pilihan kita.

Baca Selengkapnya ....

Quo Vadis Bangsa Indonesia di Tangan Pemimpin

Posted by RobyPKS.id 0 komentar


Mau kemana bangsa Indonesia ke depan?. Barangkali pertanyaan ini terlintas dalam pikiran kita. Pertanyaan ini setidaknya muncul karena kekhawatiran akan seperti apa negeri kita tercinta ini di masa yang akan datang. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Apabila diibaratkan seorang manusia, terdapat satu organ penting yang menentukan seluruh gerak langkah. Organ itu tidak lain adalah kepala. Begitu pula dengan suatu negara, maka pemimpin adalah kepalanya, karena ialah yang bertanggung jawab terhadap gerak langkah negara. Kemana dan bagaimana negara sangat ditentukan oleh pemimpinnya. Hal ini karena pemimpin memiliki instrumen berupa kebijakan yang mampu mengatur dan mengikat dengan cakupan seluas apa yang dipimpinnya. Pemimpin memiliki kedudukan yang penting dan harus ada, bahkan ketika ada 2 orang yang sedang melakukan perjalanan bersama maka salah satunya harus menjadi pemimpin.

Pentingnya keberadaan pemimpin memiliki sebuah konsekuensi untuk memilihnya dan mengadakannya. Mengapa pemimpin harus ada? Jawaban sederhananya adalah bukankah tubuh manusia tak bisa hidup tanpa kepala?. Namun perlulah diperhatikan dalam memilih seorang pemimpin yang baik. Karena pemimpin yang baik akan dipenuhi dengan hati, pemikiran dan tindakan yang baik sehingga akan baik pula apa yang ia pimpin. Demikian pula pemimpin yang buruk, maka ia dipenuhi oleh hati, pemikiran dan tindakan yang buruk sehingga akan menjadi buruk pula apa yang ia pimpin.

Pemimpin yang baik adalah harapan kita semua. Idealnya seorang pemimpin adalah yang terbaik diantara yang baik. Namun, apabila yang kita jumpai tidaklah seideal yang  kita inginkan, paling tidak kita harus memilih yang baik diantara yang buruk, atau apabila kita anggap tidak ada yang baik maka yang kita lakukan adalah memilih yang memiliki paling sedikit keburukan diantara pilihan yang buruk. Umar bin Khattab mendifinisikan orang yang cerdas bukanlah orang yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, melainkan orang yang bisa mengetahui mana yang terbaik diantara dua kebaikan dan mana yang buruk diantara dua keburukan.

Tidak lama lagi kita, bangsa Indonesia, akan menghadapi momentum pemilihan pemimpin. Saat dimana kita menyerahkan amanah kepemimpinan selama lima tahun kedepan. Saat dimana kepada pemimpin yang kita pilihlah kita menyerahkan kepercayaan untuk membawa kemana kita dan bagaimana keadaan kita lima tahun yang akan datang. Harapan kita tentu pemimpin terbaik yang menjadi pemimpin kita dan bukanlah pemimpin yang buruk.

Hak memilih pemimpin diberikan secara terbuka kepada kita yang telah memenuhi kriteria. Maka apabila kita menyadari, hakikatnya saat itu kita pasti sedang memilih. Ya....pada saat itu kita pasti sedang memilih. Yaitu memilih pemimpin yang baik, memilih pemimpin yang buruk atau memilih untuk tidak memilih. Memilih pemimpin yang baik atau memilih pemimpin yang buruk merupakan pilihan yang jelas yang saling berlawanan. Siapakah yang menang dia yang akan memimpin.

Adapun memilih untuk tidak memilih sejatinya adalah memilih karena diapun telah ikut menentukan siapa yang menang diantara pemimpin yang baik atau pemimpin yang buruk, hanya saja dia bukanlah pemilih yang berdaya. Mengapa demikian?, jawabannya adalah karena ia memilih membiarkan pemimpin baik menang karena perannya yang hilang kepada pemimpin yang buruk. Namun yang celaka adalah dia memilih membiarkan pemimpin buruk menang karena perannya yang hilang kepada pemimpin yang baik. Jika demikian adanya, sesungguhnya memperjelas peran adalah pilihan terbaik bagi kita karena ia lebih berdaya untuk melihat bagaimanakah negeri Indonesia kita di masa yang akan datang.

Baca Selengkapnya ....

BERSIKAP PADA KEGELAPAN

Posted by RobyPKS.id 0 komentar

Ketika malam menjelang lambat laut keadaan akan menjadi gelap. Saat itu pula mata kita akan merasakan keadaan dimana ia semakin tak mampu menjalankan fungsinya mengenali obyek dalam bentuk bayangan yang biasa ia tangkap, maka saat itu pula ia mengatakan kegelapan mulai menyelimuti. Kegelapan yang dirasakan oleh mata akan segera sirna kembali ketika sebuah lentera menyala di sekitar mata dan iapun kembali mampu menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu mengenali obyek yang berada disekelilingnya.
Keadaan gelap secara fisik telah kita rasakan setiap hari, dan secara fisik pula kita telah melakukan hal yang benar untuk mengatasi kegelapan itu, yaitu dengan menghadirkan lentera atau cahaya. Apabila kita maknai lebih dalam, maka apa yang telah kita lakukan sesungguhnya memberi pelajaran yang sangat berharga dimana kita telah menyadari  bahwa keadaan gelap akan sirna dengan mudahnya apabila cahaya datang. Maka kita banyak menjumpai ketika sore hari telah tiba semua akan menyalakan lampu agar keadaan tidak menjadi gelap gulita.
Gelap dan terang adalah sebuah keadaan. Dua keadaan ini merupakan efek yang dirasakan oleh indera penglihatan dari keberadaan materi yang dinamakan cahaya. Gelap merupakan keadaan tanpa cahaya, sedangkan terang merupakan keadaan dengan cahaya.
Cahaya merupakan sebuah energi. Kehadiran dan ketidakhadirannya merupakan sebuah penentu. Maka, sesungguhnya kita perlu menyadari bahwa gelap menyelimuti ruang bukan karena gelap itu sendiri yang datang, tetapi karena cahaya pergi meninggalkan ruang itu. Maka sikap yang baik bagi kita terhadap kegelapan adalah bukan meratapinya atau memintanya pergi, tetapi dengan menghadirkan cahaya, maka dengan sendirinya kegelapan akan sirna.
Jika setiap sendi-sendi kehidupan ibarat ruangan-ruangan yang memiliki keadaan. Di dalam setiap ruang memerlukan kehadiran cahaya agar kegelapan tidak menyelimuti ruangan itu. Maka, dalam menghadirkan cahaya itu marilah kita ingat firman Allah SWT dalam Al Qur’an:
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nuur : 35)

Baca Selengkapnya ....

Instagram

Fanspage