Tipuan "cerdas" sang politikus
0
komentar
Politik identik dengan kepemimpinan, kewenangan dan kekuasaan. Politik sangat menyentuh niliai-nilai yang esensial dan sensitif sehingga tidak mengherankan apabila pembahasan sampai tataran praktisnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dipenuhi dengan kegaduhan. Namun, sesungguhnya politik dalam sekup yang lebih kecil sangatlah dekat dengan kehidupan sehari-hari dan ada pada hampir semua sendi-sendi kehidupan ini. Bagaimana tidak? Apabila politik diartikan kepemimpinan, maka sudah kita pahami bahwa sesungguhnya setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya.
Bagaimana bentuk bangunan rumah tergantung dari sudut mana ia dipandang. Ungkapan tersebut setidaknya perlu kita refleksikan terhadap sudut pandang kita mengenai politik sehingga politik yang dipandang sebagai hal yang berat akan berubah menjadi lebih ringan. Sudut pandang yang dimaksud adalah politik sebagai sebuah seni. Seni tidak lepas dari nilai rasa keindahan. Alat ukurnya adalah perasaan. Output dari seni adalah karya seni. Karya seni itulah yang akan dinilai baik atau buruk oleh perasaan yang menikmatinya. Politik adalah seni memilih. Output yang dihasilkan adalah pemimpin, dengan kata lain memilih pemimpin merupakan bagian dari seni dalam berpolitik. Adapun bagi pemimpin, politik adalah seni memimpin. Ia akan memilih bagaimana cara ia memimpin, apakah ia memimpin secara otoriter atau demokratis? Apakah keputusan-keputusannya atau kebijakan-kebijakannya mampu membuat yang dipimpinnya menjadi lebih baik atau tidak?.
Oleh sebab itu bagi seorang pemimpin dibutuhkan sifat-sifat yang menunjang untuk menjadi pemimpin yang baik. Sifat-sifat yang semestinya ada dalam diri pemimpin adalah jujur dan teguh terhadap prinsip kebenaran sehingga apa yang dikatakannya dapat menjadi pedoman bagi yang dipimpinnya, akuntabel sehingga siapapun dapat memberikan masukan untuknya, memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang baik sehingga ia tidak diragukan sebagai pemimpin yang baik, memiliki pengetahuan yang luas, cerdas dan visioner sehingga ia mampu memimpin dengan bijaksana, serta seorang pemimpin dituntut untuk bersikap adil kepada siapapun yang dipimpinnya sehingga keputusannya menentramkan dan tidak ada yang terdzalimi.
Memilih pemimpin sebagai sebuah seni dibutuhkan kejelian. Perlu kita pahami bahwa memilih pemimpin dalam dunia politik tidak hanya sekedar memilih obyek tetapi sekaligus memilih subyek. Dalam hal ini ibarat tidak sedang memilih lukisan tetapi memilih pelukis. Adapun lukisan adalah obyek tak langsung atau karya yang akan dihasilkan oleh pelukis. Dalam memilih pemimpin perlu mengetahui dan mengenal sosok yang akan dipilihnya. Maka paling tidak kita perlu mengetahui ke belakang rekam jejak seorang calon pemimpin yang akan kita pilih. Dengan mengetahui rekam jejak pemimpin maka itu menjadi modal dalam menentukan pilihan.
Pilihan selalu memiliki konsekuensi. Ia adalah output dari tingkat kejelian pemilih. Pilihan yang tepat menghasilkan output yang baik dan memiliki manfaat yang baik bahkan mungkin mampu melebihi ekspektasi sang pemilih, sedangkan pilihan yang salah akan menghasilkan output yang buruk dan tidak bermanfaat, bahkan bisa jadi menjadi perusak yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan oleh sang pemilih. Meski hanya memilih, sesungguhnya ia memiliki konsekuensi yang amat mahal. Untuk itu seharusnya dalam melakukan diiringi dengan kesadaran terhadap konsekuensi dan mempertimbangkan secara mendalam dan matang. Terlebih lagi dalam memilih pemimpin, ada baiknya selain pertimbangan pribadi dengan akal dan hati sekiranya pertimbangan secara vertikal sangat dibutuhkan agar semakin memantapkan pilihan. Selamat memilih, semoga kita semua menjadi pemilih cerdas dengan memilih yang terbaik yang menjadi pemimpin pilihan kita.
Bagaimana bentuk bangunan rumah tergantung dari sudut mana ia dipandang. Ungkapan tersebut setidaknya perlu kita refleksikan terhadap sudut pandang kita mengenai politik sehingga politik yang dipandang sebagai hal yang berat akan berubah menjadi lebih ringan. Sudut pandang yang dimaksud adalah politik sebagai sebuah seni. Seni tidak lepas dari nilai rasa keindahan. Alat ukurnya adalah perasaan. Output dari seni adalah karya seni. Karya seni itulah yang akan dinilai baik atau buruk oleh perasaan yang menikmatinya. Politik adalah seni memilih. Output yang dihasilkan adalah pemimpin, dengan kata lain memilih pemimpin merupakan bagian dari seni dalam berpolitik. Adapun bagi pemimpin, politik adalah seni memimpin. Ia akan memilih bagaimana cara ia memimpin, apakah ia memimpin secara otoriter atau demokratis? Apakah keputusan-keputusannya atau kebijakan-kebijakannya mampu membuat yang dipimpinnya menjadi lebih baik atau tidak?.
Oleh sebab itu bagi seorang pemimpin dibutuhkan sifat-sifat yang menunjang untuk menjadi pemimpin yang baik. Sifat-sifat yang semestinya ada dalam diri pemimpin adalah jujur dan teguh terhadap prinsip kebenaran sehingga apa yang dikatakannya dapat menjadi pedoman bagi yang dipimpinnya, akuntabel sehingga siapapun dapat memberikan masukan untuknya, memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang baik sehingga ia tidak diragukan sebagai pemimpin yang baik, memiliki pengetahuan yang luas, cerdas dan visioner sehingga ia mampu memimpin dengan bijaksana, serta seorang pemimpin dituntut untuk bersikap adil kepada siapapun yang dipimpinnya sehingga keputusannya menentramkan dan tidak ada yang terdzalimi.
Memilih pemimpin sebagai sebuah seni dibutuhkan kejelian. Perlu kita pahami bahwa memilih pemimpin dalam dunia politik tidak hanya sekedar memilih obyek tetapi sekaligus memilih subyek. Dalam hal ini ibarat tidak sedang memilih lukisan tetapi memilih pelukis. Adapun lukisan adalah obyek tak langsung atau karya yang akan dihasilkan oleh pelukis. Dalam memilih pemimpin perlu mengetahui dan mengenal sosok yang akan dipilihnya. Maka paling tidak kita perlu mengetahui ke belakang rekam jejak seorang calon pemimpin yang akan kita pilih. Dengan mengetahui rekam jejak pemimpin maka itu menjadi modal dalam menentukan pilihan.
Pilihan selalu memiliki konsekuensi. Ia adalah output dari tingkat kejelian pemilih. Pilihan yang tepat menghasilkan output yang baik dan memiliki manfaat yang baik bahkan mungkin mampu melebihi ekspektasi sang pemilih, sedangkan pilihan yang salah akan menghasilkan output yang buruk dan tidak bermanfaat, bahkan bisa jadi menjadi perusak yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan oleh sang pemilih. Meski hanya memilih, sesungguhnya ia memiliki konsekuensi yang amat mahal. Untuk itu seharusnya dalam melakukan diiringi dengan kesadaran terhadap konsekuensi dan mempertimbangkan secara mendalam dan matang. Terlebih lagi dalam memilih pemimpin, ada baiknya selain pertimbangan pribadi dengan akal dan hati sekiranya pertimbangan secara vertikal sangat dibutuhkan agar semakin memantapkan pilihan. Selamat memilih, semoga kita semua menjadi pemilih cerdas dengan memilih yang terbaik yang menjadi pemimpin pilihan kita.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Tipuan "cerdas" sang politikus
Ditulis oleh AnakTani
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://pojokprapatan.blogspot.com/2014/03/tipuan-cerdas-sang-politikus.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh AnakTani
Rating Blog 5 dari 5
